PERBEDAAN LAYU FUSARIUM DENGAN LAYU BAKTERI PADA TANAMAN
Cabai, tomat, paprika, terong, kentang dan tembakau merupakan tanaman dari keluarga solanaceae (terung-terungan) yang lazim dibudidayakan di Indonesia. Tanaman solanaceae tergolong cukup rawan terhadap layu. Penyebab layu dikelompokkan menjadi 2 faktor yaitu layu karena faktor fisiologis seperti kekurangan air atau kekeringan, dan layu patogenik yang disebabkan oleh jamur maupun bakteri.
Pada tulisan ini kita hanya membahas layu karena faktor patogenik, yaitu oleh serangan jamur dan bakteri patogen karena dampak serangannya yang hampir mirip dan sulit dibedakan jika tidak diamati secara seksama.
LAYU BAKTERI
Bakteri yang menyerang tanaman cabai, terong, tomat, kentang dan tembakau berasal dari strain yang sama yaitu Ralstonia Solanacearum yang sebelumnya dikenal dengan Pseudomonas Solanacearum. Karena penamaan pseudomonas kurang spesifik maka belakangan seorang ilmuwan bakteriologi Amerika bernama Ericka Ralston membuat penamaan strain yang lebih khusus menjadi Ralstonia yang diambil dari namanya. Merupakan salah satu patogen tular tanah (soil borne) yang hidup pada suasana aerobik, berkembang biak dengan membelah diri, bergerak secara mandiri (motile) dan berpindah lokasi lebih jauh dengan bantuan aliran air. Ralstonia solanacearum mampu bertahan di tanah selama bertahun-tahun dalam kondisi dorman (tidur). Sewaktu-waktu aktif kembali dan virulen pada saat kondisi lingkungan sesuai yaitu tanah lembab, cukup oksigen dengan suhu hangat berkisar 24o – 35o, dan tentu saja terdapat terdapat tanaman inang yang sedang lemah. Oleh karenanya lahan pertanian yang punya sejarah serangan bakteri ini sangat berpotensi untuk suatu saat terserang kembali.
Ralstonia solanacearum menginfeksi tanaman melalui pelukaan pada organ tanaman, biasanya akar atau bagian bawah pangkal batang. Pelukaan tersebut bisa karena serangan nematoda, hama tanah seperti ulat tanah, luka mekanis karena taju atau alat, bahkan melalui akar yang mati dan membusuk oleh patogen lain. Oleh karenanya pengendalian layu ralstonia solanacearum tidak bisa berdiri sendiri melainkan harus dikombinasi dengan penanganan penyebab luka akar. Misanya jika akar luka oleh nematoda, maka harus dikombinasi dengan nematisida.
Meski sekilas hampir sama dengan layu karena jamur, layu oleh Ralstonia solanacearum mempunyai ciri dibawah ini :
- Pada tahap awal serangan, kelayuan tidak terjadi secara mendadak melainkan terjadi di siang hari saat cuaca panas dan pada sore harinya tanaman kembali segar. Kondisi ini berlangsung beberapa hari hingga akhirnya layu total dan, daun-daun menguning dan berguguran, berujung pada kematian tanaman.
- Pada umumnya serangan tidak meluas, hanya beberapa batang tanaman yang terserang. Tapi pada tanah yang terjangkit nematoda akut, kelayuan akan terjadi secara luas hampir ke semua tanaman.
- Apabila tanaman dipotong pada pangkal batang dan dicelupkan ke dalam air bersih beberapa saat akan keluar cairan putih susu dari bekas potongan. Test ini disebut dengan “stem-streaming test” atau uji aliran batang (gambar 1).
- Pada tanaman yang sudah parah, jika batang bagian bawah dibelah akan tampak warna cokelat hingga kerusakan pada jaringan xilem yang merupakan jalur pengangkutan air dan unsur hara sebagai bahan baku fotosintesis dari akar ke daun, sedangkan kulit batang tidak tampak adanya kerusakan (gambar 2).
Gambar 1 : Ciri infeksi bakteri melalui test aliran batang

Bambar 2 : kerusakan jaringan xilem oleh infeksi ralstonia solanacearum
Upaya Pencegahan :
- Hindari terjadinya pelukaan pada bagian bawah tanaman baik karena taju / alat pertanian, serangan ulat tanah maupun nematoda.
- Perendaman bibit dengan larutan bakterisida, atau lakukan penyemprotan bakterisida pada lubang tanam sebelum bibit ditanam.
- Kurangi pemupukan yang mengandung unsur N tinggi terutama dalam bentuk urea dan nitrat.
- Jaga drainase agar tanah tidak selalu dalam keadaan tergenang dan terlalu lembab.
- Pengapuran lahan dengan dolomit saat olah tanah cukup membantu untuk menebalkan dinding sel akar sehingga tidak mudah terluka.
- Gunakan pupuk kandang atau kompos yang sudah benar-benar terdekomposisi maksimal. Penggunaan trichoderma SP dan asam humat (HUMALIT) yang dicampurkan pada pupuk kandang dapat membantu menekan koloni Ralstonia solanacearum.
- Jika pada 2 musim terakhir tanaman selalu mengalami layu bakteri sebaiknya lakukan rotasi tanaman dengan tanaman lain yang tidak sefamili dengan solanaceae setidaknya selama 2 tahun hingga bakteri ini mengalami avirulen.
Pengendalian jika tanaman sudah terserang :
Layu bakteri bisa dikendalikan hanya pada awal-awal serangan dengan tanda-tanda dedaunan yang lemas terkulai karena tanaman mengalami dehidrasi. Jika kondisi ini dibiarkan beberapa hari kemudian kelayuan akan permanen dimulai dari ujung tanaman maupun dedaunan bagian bawah. Semakin dini semakin besar kesempatan untuk sembuh. Pengendalian akan terasa berat dan percuma ketika jaringan xilem sudah rusak, yang artinya tanaman tidak lagi mendapat suplai air dan nutrisi dari akar sehingga tidak dapat melakukan fotosintesis.
- Jika ditemukan hanya beberapa batang tanaman yang terserang segera cabut tanaman yang terinfeksi sekaligus ambil tanah di bekas lubang tanamnya dan buang ditempat jauh atau dibakar. Kocor lubang tanam bekas tanaman sakit itu dengan bakterisida.
- Cari tahu apa penyebab pelukaan pada akar tanaman sehingga bakteri bisa masuk, dan kendalikan sesuai penyebabnya.
- Apabila serangan mulai menjalar ke tanaman yang semula sehat dengan ciri daun mulai tampak lemas, semprotkan pupuk daun dosis ringan Tindakan ini merupakan langkah emergensi untuk mensuplai unsur hara melalui daun, karena xylem telah mengalami gangguan dalam mengangkut air dan unsur hara ke daun.
- Gunakan bakterisida streptomycin sulfate / kasugamycin secara tunggal dengan cara kocor langsung ke perkaran tanaman di sekitar tanaman sakit. Selain dikocorkan, bakterisida juga disemprotkan 1 minggu berikutnya.
LAYU FUSARIUM
Fusarium merupakan genus cendawan (fungi) dengan variasi spesies terbanyak yaitu sekitar 120 spesies, 15 diantaranya merupakan patogen bagi tanaman. Dari 15 spesies tersebut yang paling umum menyerang tanaman solanaceae adalah Fusarium oxysporum dan Fusarium solanii. Berkembang biak dengan 2 spora aseksual yaitu makrokonidium dan mikrokonidium. Merupakan jenis patogen tular tanah (soil borne) penyebab layu dan busuk pangkal batang. Berkembang optimal pada kondisi tanah lembab, cukup oksigen, dan yang paling utama adalah media (tanah) yang asam dengan pH berkisar 4,5 - 6. Penyebarannya bisa melalui aliran air tanah, pengangkutan media tanam benih, partikel tanah kering yang terbawa angin, alat pertanian, serta kompos yang mengandung sisa-sisa tanaman berspora.
Meski sporanya tidak bergerak secara mandiri sebagaimana bakteri, serangan fusarium bisa menyebar dan menular secara cepat pada lahan-lahan yang mempunyai sejarah serangan fusarium di musim-musim terdahulu. Infeksi fusarium tak tidak memerlukan adanya pelukaan pada akar tanaman, tetapi cukup dengan memanfaatkan kondisi tanaman inang yang lemah. Bisa karena tanaman sedang mengalami stress fisiologis, kekurangan air, sedang mengalami fase peralihan, dan kurang nutrisi. Bagian yang paling mudah diinfeksi oleh fusarium adalah pembuluh tapis (phloem) karena jaringan ini memiliki dinding sel yang tipis sehingga mudah dicerna dan diembus oleh hifa jamur fusarium. Floem bertugas menyalurkan hasil fotosintesa (fotosintat) ke seluruh organ termasuk bagian bawah tanaman serta mengatur aliran unsur hara, sehingga kerusakan pada floem berarti kematian bagi tanaman.
Ciri-ciri infeksi fusarium pada tanaman solanaceae selanjutnya adalah :
- Tanda awal adalah warna pucat pada tulang-tulang daun, kemudian merata dan daun mulai tampak lunglai.
- Pada lahan yang baru-baru terkena layu fusarium biasanya ditandai dengan serangan yang hanya terjadi pada beberapa batang tanaman kemudian menular ke tanaman berdekatan.
- Sedangkan pada lahan yang sejarahnya pernah terserang sebelumnya, di tanah sudah terinfestasi spora dorman, gejala serangan cenderung serempak dan hampir merata, tidak ditandai dengan kelayuan bertahap seperti pada layu bakteri.
- Apabila tanaman dicabut, pada pangkal batang tampak bagian berwarna tua hingga busuk melingkar seperti cincin (gambar 3).
- Adakalanya tidak ditemukan gejala busuk pada pangkal batang, tetapi jika batang bawah dibelah membujur akan tampak warna kecokelatan pada jaringan pembuluh tapis (floem) dan tidak didapati lendir sebagaimana infeksi bakteri (gambar 4).

Gambar 3: busuk pangkal batang (crown root rot) akibat infeksi fusarium oxysporum

Gambar 4: kerusakan pembuluh tapis (floem) pada batang tomat oleh fusarium oxysporum.
Upaya Pencegahan :
Upaya pencegahan harus diprioritaskan manakala lahan yang akan ditanami mempunyai sejarah serangan layu fusarium di musim-musim sebelumnya.
- Pengolahan tanah dan pengaturan drainase yang baik.
- Pengapuran lahan saat olah tanah denga dolomit, dan mempertahankan pH tanah di atas 6, serta hindari pemakaian pupuk nitrat berlebihan selama musim hujan.
- Gunakan pupuk organik (pupuk kandang atau kompos) yang benar-benar terdekomposisi baik. Penggunaan trichoderma SP / gliocladiumdan asam humat (HUMALIT) yang dicampurkan pada pupuk kandang dapat pula membantu menekan menekan perkembangan fusarium.
- Meningkatkan daya tahan tanaman saat fase-fase kritis atau fase-fase peralihan terutama saat pembentukan bunga dan buah. Pada fase tersebut energi tanaman terkuras drastis sehingga perlu asupan unsur P secara instan.
- Jika pada 2 musim terakhir tanaman selalu mengalami layu fusarium sebaiknya lakukan rotasi tanaman dengan tanaman lain yang tidak sefamili dengan solanaceae dan cucurbitae (timun, semangka, melon) setidaknya selama 1 – 2 periode untuk memutus siklus.
Pengendalian jika tanaman sudah terserang :
Fusarium tergolong fungi patogen yang cukup bandel terhadap fungisida. Maka manakala sudah tampak tanda-tanda serangan awal fusarium maka pengendalian kuratif harus segera dilakukan, diantaranya:
- Jika ditemui satu dua tanaman yang mulai layu segera lakukan blokade media dengan cara mencabut tanaman, ambil tanah bekas tanaman dan buang jauh dari lahan. Kocor bekas tanaman dengan fungisida tembaga.
- Pengocoran pangkal batang dengan fungisida berbahan aktif tembaga hidroksida yang dicampur kalsium karbonat (tidak larut air) dengan perbandingan 2 gr : 2 gr per liter air untuk tiap 4 - 5 tanaman (200 – 250 ml per tanaman).
- Aplikasi fungisida sistemik berbahan aktif benomil, mefenoxam, azoxistrobin, carbendazim, prochloraz (ambil 2 diantaranya untuk aplikasi penyemprotan daun secara selang seling).
- Dalam kondisi tanaman sakit seperti ini sementara tidak perlu berpikir meningkatkan produktvitas dengan ZPT atau pupuk daun karena merupakan tindakan sia-sia.
HUBUNGAN LAYU BAKTERI DAN LAYU FUSARIUM
Di lahan seringkali kami mendapati adanya kasus antara layu bakteri sekaligus layu fusarium. Di atas sudah disebutkan bahwa bakteri ralstonia solanacearum menginfeksi tanaman melalui luka pada tanaman. Dari luka tersebut mereka masuk ke dalam jaringan xilem dan menyebabkan “luka dalam”. Sedangkan fusarium menginfeksi tanpa harus melalui luka karena kemampuannya menghasilkan enzim yang mendekomposisi jaringan luar tanaman sehingga sel-sel kulit tanaman menjadi lunak dan membusuk.
Luka busuk tadi bisa menjadi jalan bagi bakteri untuk masuk menginfeksi tanaman. Dalam kasus ini infeksi fusarium disebut sebagai infeksi primer, sedangkan infeksi bakteri disebut sebagai infeksi sekunder. Ciri yang ditimbulkan adalah adanya kerusakan baik pada jaringan floem maupun xilem. Jika ini yang terjadi maka aplikasi fungisida harus dikombinasi dengan bekterisida secara berselang seling.
PEMULIHAN KONDISI TANAMAN
Tingkat keberhasilan kita dalam menangani permasalahan layu patogenik ini sangat tergantung pada upaya pencegahan atau antisipasi dan tindakan kuratif (penanganan saat serangan terjadi). Semakin kita jeli mengenali tanda-tanda gejala, semakin rajin kita melakukan langkah antisipasi, dan semakin dini kita melakukan tindakan kuratif maka peluang tanaman selamat terbuka lebar. Sebaliknya jika kita salah mengidentifikasi faktor penyebab, misalnya kita mengira itu serangan bakteri ternyata fusarium, maka langkah berikutnya yang kita ambil pun akan salah. Peluang untuk menyembuhkan tanaman akan semakin menipis.
Setelah kita berhasil menyelamatkan tanaman, langkah selanjutnya adalah memulihkan kondisi tanaman agar bisa kembali berkembang dengan normal. Satu hal yang perlu kita ingat bahwa patogen yang tadinya menyerang tidak sepenuhnya musnah oleh pestisida. Ancaman tetap selalu ada namun sudah berkurang jauh tingkat ancamannya. Maka perlakuan dengan pestisida (bakterisida untuk layu bakteri dan fungisida untuk fusarium) tetap dilakukan namun intensitasnya dikurangi menjadi 2 minggu sekali misalnya.
Upaya pemulihan tanaman yang baik akan membantu tanaman mengembalikan vitalitas dan resistensinya sehingga lebih tahan terhadap patogen.
- Kurangi pemupukan berlebihan terutama yang nitrat melalui tanah. Suplai unsur hara bisa dibantu melalui daun sesuai dengan fase.
- Tingkatkan metabolisme tanaman dengan pupuk hara makro
- Jaga pH tanah dengan aplikasi dolomit

Komentar
Posting Komentar